SMAM3SCH.ID — Kuliah umum yang menghadirkan Anies Baswedan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Jumat (24/4/2026), menjadi momentum penting bagi mahasiswa dan pelajar untuk memahami makna kepemimpinan sejati.
Bertempat di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan Lt.5 Kampus 1 Umsida, kegiatan yang digelar oleh BEM Umsida ini diikuti mahasiswa, dosen, guru, serta pelajar SMA/SMK se-Kabupaten Sidoarjo.
Dalam kuliah umumnya, Anies—yang akrab disapa “Abah Anies”—langsung mengajak peserta berpikir kritis dengan pertanyaan mendasar: mengapa seseorang pemimpin diikuti?
Awalnya, ia menyinggung kemungkinan jawaban yang bersifat transaksional, seperti karena uang. Namun, ia menegaskan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah soal transaksi.
“Kalau diikuti karena bayaran, itu bukan sukarela, itu transaksi. Tapi pemimpin yang diikuti secara sukarela, itu karena dipercaya,”tegasnya.

Kepercayaan, Kunci Utama Kepemimpinan
Menurut Anies, inti dari kepemimpinan adalah kepercayaan (trust). Seseorang diikuti bukan semata karena jabatan atau kekuasaan, melainkan karena ia mampu membangun kepercayaan di mata pengikutnya.
“Kenapa seseorang diikuti? Karena dipercaya. Lalu kenapa dipercaya? Karena ada unsur-unsur yang membuat kepercayaan itu tumbuh,”ujarnya.
Ia kemudian merumuskan komponen utama pembentuk kepercayaan dalam kepemimpinan transformatif, yaitu dengan Rumus T = C + i1 +i2 - SI
Trust = Kepercayaan masyarakat/orang lain akan tumbuh pada seseorang pemimpin itu memiliki :
1. Kompetensi (competence): kemampuan dan kapasitas dalam menjalankan tugas
2. Integritas (integrity): keselarasan antara perkataan, perbuatan, dan nilai kebenaran serta kepentingan publik
3. Kedekatan (intimacy): hubungan emosional yang membuat pemimpin dekat dengan yang dipimpin
Namun, ada satu faktor yang justru dapat merusak kepercayaan, yakni kepentingan pribadi (self-interest).
“Ada orang kompeten, berintegritas, tapi ketika yang dipikir hanya diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya, kepercayaan itu langsung turun,”jelasnya.
Ia menegaskan, pemimpin yang ingin diikuti harus mampu mengendalikan kepentingan pribadi, karena hal itulah yang sering menjadi sumber runtuhnya kepercayaan publik.

Pemimpin Transformatif Bukan Transaksional
Anies membedakan secara tegas antara kepemimpinan transaksional dan transformatif. Kepemimpinan transaksional, menurutnya, mudah dilakukan karena hanya berbasis imbalan.
“Kalau transaksional itu gampang, cukup beri imbalan. Tapi kalau transformatif, harus membangun kepercayaan dan menggerakkan orang tanpa paksaan,”ujarnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan transformatif menuntut kemampuan lebih dalam mempengaruhi dan menggerakkan orang untuk bekerja bersama demi tujuan yang lebih besar.
Pentingnya Narasi dalam Kepemimpinan
Selain kepercayaan, Anies juga menekankan pentingnya narasi (narrative leadership) dalam kepemimpinan. Ia menyebut bahwa kepemimpinan memiliki tiga fase utama: gagasan, narasi, dan karya.
“Fakta saja tidak cukup menggerakkan orang. Tapi ketika fakta diberi narasi yang tepat, itu bisa membangkitkan kesadaran dan mendorong orang untuk bergerak,”paparnya.
Ia mencontohkan pengalaman saat menggagas program Indonesia Mengajar. Data tentang kekurangan guru di daerah terpencil tidak cukup menggerakkan. Namun ketika disampaikan dengan narasi yang menyentuh—tentang pengabdian dan makna hidup—barulah banyak orang tergerak untuk terlibat.
Dalam konteks sejarah, ia juga menyinggung sosok Bung Tomo yang mampu menggerakkan rakyat melalui pidato penuh semangat.
“Itu kekuatan narasi. Kata-kata yang membangkitkan kesadaran, yang membuat orang rela berjuang,”ujarnya.
Pesan untuk Pelajar SMA Muhammadiyah
Gaya penyampaian yang interaktif membuat peserta, termasuk pelajar SMA Muhammadiyah, antusias mengikuti jalannya diskusi. Anies berpesan bahwa menjadi pemimpin tidak harus menunggu jabatan, tetapi dimulai dari membangun kualitas diri.
“Kalau ingin menjadi pemimpin yang diikuti secara sukarela, bangun kompetensi, jaga integritas, dekat dengan الناس, dan kendalikan kepentingan pribadi,”pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya fokus pada substansi, bukan sekadar tampilan.
“Kalau ingin maju, fokus pada hal yang substantif, bukan artifisial,”tandasnya.
Penutup
Kuliah umum ini menjadi pengantar penting bagi generasi muda, khususnya pelajar SMA/SMK Muhammadiyah, untuk memahami bahwa kepemimpinan transformatif lahir dari kepercayaan, diperkuat oleh integritas, dan digerakkan melalui narasi yang bermakna.
Dengan bekal itu, diharapkan lahir pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya diikuti karena kekuasaan, tetapi karena mampu menginspirasi dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat. (*)
Editor : Jurnalis Website Smamuga
Leave a Reply