SMAM3SCH.ID – Pagi itu, halaman SMA Muhammadiyah 3 Tulangan terasa sedikit berbeda. Barisan siswa berdiri rapi mengikuti upacara bendera, namun amanat yang disampaikan tak sekadar rutinitas. Ada pesan penting tentang kebiasaan baru yang akan membentuk cara belajar, cara bersosial, hingga cara berpikir para siswa di era digital.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Imatul Mufidah, S.Pd., tampil sebagai pembina upacara, Senin pagi (13/4/2026). Dalam amanatnya, ia menyampaikan dukungan penuh sekolah terhadap Surat Edaran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Nomor 400.3/1/1700.1/2026 tentang pembatasan penggunaan gadget di lingkungan pendidikan.
Kebijakan ini bukan sekadar aturan administratif. Bagi Ima—sapaan akrabnya—ini adalah upaya serius menjaga kualitas pembelajaran sekaligus adab siswa.
“Nota dinas ini bertujuan membatasi penggunaan perangkat elektronik guna meningkatkan fokus belajar, mengurangi distraksi, dan menekan degradasi adab di kalangan siswa,”tegasnya di hadapan peserta upacara.

Menjaga Fokus di Tengah Gempuran Teknologi
Di era serba digital, Ima tidak menampik bahwa gadget memiliki peran penting dalam pembelajaran. Namun, ia juga mengingatkan adanya sisi lain yang tak bisa diabaikan.
Menurutnya, penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai dampak negatif, mulai dari paparan konten tidak layak, perundungan daring (cyberbullying), hingga ketergantungan digital yang berujung pada menurunnya kemampuan berpikir kritis.
Ia bahkan menyinggung fenomena yang kini marak terjadi di kalangan siswa.
“Anak-anak sekarang sedikit-sedikit langsung Gemini AI, sedikit-sedikit ChatGPT. Ketika diberi soal, langsung diketik dan jawabannya keluar. Tapi saat ditanya maknanya, justru bingung,”ungkap guru fisika senior itu.
Dalam praktiknya, tugas yang seharusnya melatih proses berpikir kerap selesai hanya dalam hitungan menit, tanpa pemahaman yang utuh. Inilah yang menjadi salah satu alasan kuat diberlakukannya pembatasan penggunaan HP di sekolah.

Aturan yang Mendidik, Bukan Membatasi
Ima menegaskan, kebijakan ini bukan berarti melarang total penggunaan gadget. Sebaliknya, penggunaan tetap diperbolehkan, tetapi harus sesuai kebutuhan pembelajaran dan atas arahan guru.
Selama kegiatan belajar mengajar (KBM), HP tidak boleh digunakan kecuali untuk kepentingan tertentu seperti pemindaian QR, kuis daring, atau penggunaan platform edukasi seperti belajar.id, Canva, maupun Quipper.
Di luar itu, siswa diminta mengumpulkan HP melalui ketua kelas untuk disimpan di tempat khusus di kelas, seperti etalase atau lemari buku. Sekolah pun akan menyediakan fasilitas penyimpanan yang lebih aman.
“Ini murni demi kebaikan kita bersama. Anak-anak harus dengan kesadaran penuh mengumpulkan gadgetnya sebagai bentuk deteksi dan pencegahan dini,”jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar penyimpanan dilakukan dengan hati-hati, tidak menumpuk berlebihan demi menghindari kerusakan perangkat.
Menariknya, siswa tetap diperbolehkan mengambil kembali HP saat jam istirahat. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan tersebut dirancang secara proporsional—bukan membatasi komunikasi, tetapi mengatur penggunaannya agar lebih bijak.
Mencegah Bullying Digital
Salah satu poin penting dalam kebijakan ini adalah pencegahan perundungan digital. Ima menyoroti kebiasaan sebagian siswa yang tanpa sadar melakukan tindakan yang mengarah pada bullying.
Mulai dari memotret teman tanpa izin, membuat meme, hingga menyebarkan video dengan caption ambigu di media sosial.
“Kelihatannya lucu, tapi itu bisa menggiring opini negatif dan merugikan teman bahkan sekolah. Ini bisa berimplikasi hukum,”tegasnya.
Ia berharap melalui komitmen bersama, siswa dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Komitmen Bersama dan Peran Orang Tua
Sebagai bentuk keseriusan, sekolah juga meminta siswa menyerahkan surat pernyataan komitmen penggunaan gadget yang telah ditandatangani orang tua atau wali.
Melalui langkah ini, pengawasan tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga.
“Dari pernyataan komitmen ini, kami berharap siswa bisa lebih disiplin dalam penggunaan gadget, khususnya di pagi hari,”ujarnya.
Menentukan Masa Depan Sejak Dini
Tak hanya soal gadget, amanat tersebut juga menjadi momen penting bagi siswa kelas X yang akan menentukan jurusan peminatan di kelas XI.
Ima mengingatkan agar keputusan tidak didasarkan pada ikut-ikutan teman, melainkan berdasarkan minat, bakat, dan tujuan masa depan.
Ia menjelaskan, sekolah akan melakukan empat tahapan asesmen: tes dari BK, nilai rapor, rekomendasi guru mata pelajaran, serta angket yang melibatkan orang tua.
“Kalau sudah ada keputusan dari sekolah, jalani dengan baik. Jangan pindah hanya karena ikut teman,”pesannya.
Ruang Ekspresi Lewat Literasi
Di sisi lain, kabar menggembirakan datang dari tim Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Smamuga tengah menyiapkan buku antologi puisi karya siswa.
Ima mengajak seluruh siswa, baik kelas X, XI, maupun XII, untuk mengirimkan karya terbaiknya sebelum akhir April.
“Nanti akan dibukukan menjadi karya pertama Smamuga yang bisa dibaca di perpustakaan. Ini kesempatan untuk menunjukkan bakat kalian,” ujarnya.
Pesan Khusus untuk Kelas XII
Bagi siswa kelas XII, upacara hari itu menjadi momen yang sarat makna. Ima mengingatkan bahwa itu adalah upacara terakhir mereka sebagai siswa aktif.
“Ini hari terakhir kalian memakai seragam putih abu-abu dalam upacara. Ikuti dengan baik,”pesannya.
Ia juga menyampaikan beberapa agenda penting, mulai dari foto ijazah, ujian susulan PSAJ dan praktik, hingga partisipasi dalam peringatan Hari Kartini.
Tak lupa, doa dan motivasi disampaikan bagi siswa yang akan menghadapi UTBK pada 21–30 April.
“Sekolah sudah membekali dengan PIP dan 12 kali try out dari Quipper. Semoga itu menjadi senjata untuk meraih skor terbaik, 700 plus. Tapi ingat, harus disertai usaha yang luar biasa, tidak cukup hanya doa,”tutupnya.
Amanat pagi itu bukan sekadar pengumuman kebijakan. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, karakter, disiplin, dan kesadaran diri tetap menjadi fondasi utama pendidikan. Di Smamuga, perubahan bukan hanya tentang aturan, tetapi tentang membentuk generasi yang cerdas sekaligus beradab.
Editor : Jurnalis SMAM3SCH.ID
Leave a Reply