Loading...
Kabupaten Sidoarjo
031 8855423

Berita

Dari Juru Tulis hingga Ketua Umum Muhammadiyah, Keteladanan K.H. Ahmad Azhar Basyir

09 Mar 2026

SMAM3SDA.SCH.ID - Dalam sejarah panjang Persyarikatan Muhammadiyah, banyak tokoh besar yang memberikan kontribusi penting bagi perkembangan Islam dan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh tersebut adalah K.H. Ahmad Azhar Basyir, ulama intelektual yang dikenal luas karena keluasan ilmu, kesederhanaan pribadi, dan pengabdiannya yang panjang bagi Muhammadiyah.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan organisasi tokoh besar ini justru dimulai dari posisi yang sangat sederhana: seorang juru tulis.
Kisah hidupnya menjadi teladan bahwa kepemimpinan besar sering kali lahir dari proses panjang, kerja keras, serta ketekunan dalam menapaki setiap tahap pengabdian.

Tumbuh di Lingkungan Kauman Yogyakarta

K.H. Ahmad Azhar Basyir lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 21 November 1928. Kawasan Kauman dikenal sebagai pusat perkembangan Muhammadiyah sejak masa awal berdirinya organisasi tersebut.

Lingkungan religius ini melahirkan banyak tokoh ulama dan pemikir Islam modern di Indonesia. Di tengah atmosfer keilmuan dan dakwah itulah Azhar Basyir kecil tumbuh dan berkembang.

Sejak usia muda ia telah terbiasa dengan kegiatan keagamaan, diskusi keilmuan, serta aktivitas sosial yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah.

Nilai-nilai kedisiplinan, kecintaan pada ilmu pengetahuan, serta semangat berkhidmat kepada umat mulai tertanam kuat dalam dirinya sejak masa muda.

Memulai Pengabdian dari Tugas Sederhana

Perjalanan Ahmad Azhar Basyir di Muhammadiyah tidak dimulai dari posisi tinggi. Ia justru mengawali kiprahnya dari tugas yang sangat sederhana sebagai juru tulis organisasi.
Pekerjaannya saat itu antara lain mengetik berbagai surat organisasi, mendokumentasikan kegiatan, serta mengantarkan surat-surat resmi Muhammadiyah.

Meski terlihat sederhana, tugas tersebut menjadi ruang belajar yang sangat berharga baginya. Dari pekerjaan itu ia dapat memahami secara langsung bagaimana Muhammadiyah bekerja, bagaimana gagasan dirumuskan, serta bagaimana keputusan organisasi dijalankan. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami dinamika organisasi dan memperkuat komitmennya untuk terus mengabdi di Muhammadiyah.


Ikut Berjuang pada Masa Revolusi

Semangat kebangsaan Ahmad Azhar Basyir juga terlihat pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Ia ikut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan melalui laskar TNI Hizbullah. Organisasi ini dihuni oleh para pemuda Muslim yang turut berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman penjajahan kembali. Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dalam dirinya: religius, nasionalis, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan bangsa.

Menjadi Intelektual dengan Wawasan Internasional

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Ahmad Azhar Basyir melanjutkan pendidikan tinggi ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmu keislaman. Ia menempuh studi di Universitas Baghdad, Irak, kemudian melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Master di Universitas Kairo, Mesir.

Pengalaman akademik di dua pusat keilmuan dunia Islam tersebut membentuk perspektif keilmuan yang luas. Ia dikenal mampu memadukan pemahaman fiqih klasik, filsafat Islam, serta pemikiran modern dalam pendekatan yang rasional dan kontekstual.

Kemampuan tersebut membuatnya dikenal sebagai salah satu ulama Muhammadiyah yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus wawasan global.

Kiprah Kepemimpinan di Muhammadiyah

Sekembalinya ke Indonesia, Ahmad Azhar Basyir semakin aktif dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah. Ia dipercaya memegang berbagai amanah penting, mulai dari Ketua Pemuda Muhammadiyah, kemudian aktif dalam Majelis Tarjih Muhammadiyah, yang menjadi pusat kajian hukum Islam di lingkungan persyarikatan.

Kiprah intelektual dan kepemimpinannya terus berkembang hingga akhirnya pada Muktamar Muhammadiyah tahun 1990, ia terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah semakin dikenal sebagai gerakan Islam yang tidak hanya aktif dalam bidang dakwah dan sosial, tetapi juga sebagai pusat pemikiran dan kajian intelektual. Berbagai diskusi tentang persoalan umat—mulai dari ekonomi, politik, hingga hukum Islam—didorong untuk dikaji secara ilmiah dan terbuka.

Ulama yang Produktif Menulis

Selain sebagai pemimpin organisasi, Ahmad Azhar Basyir juga dikenal sebagai ulama yang sangat produktif menulis.
Karya-karyanya banyak membahas bidang pemikiran Islam, filsafat, serta hukum Islam kontemporer. Tulisan-tulisan tersebut menjadi rujukan penting di berbagai perguruan tinggi, khususnya di lingkungan pendidikan Islam dan Muhammadiyah.
Melalui karya-karyanya, ia berupaya menjembatani antara tradisi keilmuan klasik dengan tantangan kehidupan modern.

Sosok Ulama yang Sederhana

Meski pernah menduduki jabatan tertinggi di Muhammadiyah, Ahmad Azhar Basyir tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan bersahaja. Ia tidak menjaga jarak dengan masyarakat maupun dengan kader-kader muda Muhammadiyah. Sikap rendah hati serta kesediaannya berdialog dengan berbagai kalangan membuatnya dihormati sekaligus dicintai oleh banyak orang. Pada 28 Juni 1994, K.H. Ahmad Azhar Basyir wafat. Namun pemikiran, keteladanan, dan pengabdiannya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Muhammadiyah.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Kisah hidup Ahmad Azhar Basyir memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda, termasuk para pelajar di sekolah Muhammadiyah. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan besar tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang, kerja keras, serta keikhlasan dalam mengabdi. Dari seorang juru tulis yang mengetik surat-surat organisasi, ia tumbuh menjadi ulama intelektual dan pemimpin besar Muhammadiyah. Keteladanan ini menjadi inspirasi bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi jalan menuju pengabdian yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

Penulis : Zulkifli

Sumber : Redaksi Muhammadiyah – Kyai Haji Ahmad Azhar Basyir, MA (Ketua PP Muhammadiyah 1990–1995)


Leave a Reply