SMAM3SDA.SCH.ID – Suasana Aula Lantai 3 SMA Muhammadiyah 3 (Smamuga) Tulangan, Sidoarjo, Sabtu (7/3/2026) siang terasa berbeda. Tawa ringan sesekali terdengar di antara barisan guru dan karyawan yang duduk rapi mengikuti kegiatan Baitul Arqom. Setelah sebelumnya menyelenggarakan Darul Arqom dan Baitul Arqom bagi para siswa, kali ini kegiatan pembinaan ideologi Muhammadiyah tersebut secara khusus ditujukan bagi guru dan tenaga kependidikan. Sekitar 45 peserta hadir mengikuti kegiatan yang dimulai pukul 12.30 WIB itu.
Kegiatan ini menghadirkan Drs. Muflih Hasyim, M.Pd, tim pendamping Dikdasmen PDM Sidoarjo, sebagai pemateri utama. Dengan gaya penyampaian yang santai, diselingi humor segar, Muflih berhasil membuat suasana forum terasa hidup. Materi yang cukup mendalam pun terasa ringan dan mudah dipahami oleh para peserta.
Pengabdian Panjang di Muhammadiyah
Meski usianya telah memasuki 68 tahun, semangat Muflih Hasyim dalam berdakwah dan berbagi pengalaman tidak pernah surut. Ia dikenal sebagai sosok yang lama mengabdikan diri dalam dunia pendidikan Muhammadiyah.
Sebelum menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Muflih pernah mengajar cukup lama di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Selain aktif sebagai akademisi, ia juga terlibat dalam pendampingan sekolah-sekolah Muhammadiyah, khususnya dalam penguatan digitalisasi dan pengelolaan media sosial sekolah. Pengalaman panjang itulah yang membuat materi yang disampaikannya terasa dekat dengan kehidupan para guru Muhammadiyah.
Menuju Guru Dunia dan Akhirat
Dalam sesi materinya, Muflih mengangkat tema “Menuju Guru Dunia Akhirat.” Ia mengajak para guru untuk memahami profesi pendidik sebagai jalan pengabdian yang tidak semata-mata diukur dengan materi, melainkan dengan keberkahan hidup. Sebagai landasan, ia mengutip Al-Qur’an Surah Al-Qasas ayat 77 yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia...” (QS. Al-Qasas: 77).
Menurutnya, menjadi guru di sekolah Muhammadiyah merupakan profesi yang sangat mulia karena didasari oleh semangat dakwah dan pengabdian kepada umat.“Menjadi guru di Muhammadiyah memang tidak selalu menjanjikan materi yang besar. Tetapi insyaAllah ada keberkahan yang Allah berikan jika kita mengajar dengan ikhlas,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar teori.
Muflih mengaku merasakan sendiri pengalaman tersebut selama 20 tahun mengabdi sebagai guru Muhammadiyah. “Kalau dihitung secara materi, mungkin terasa kurang. Tetapi Allah selalu memberi jalan dan keberkahan yang tidak disangka-sangka, ”tuturnya.
Rezeki dari Jalan yang Tak Disangka
Muflih kemudian mengutip Surah At-Talaq ayat 2–3, yang menjelaskan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa. Ia mencontohkan keberkahan yang ia rasakan dalam kehidupan keluarganya. Menurutnya, kemudahan pendidikan anak-anaknya hingga mencapai jenjang doktoral (S3) menjadi salah satu bukti karunia Allah.
“Alhamdulillah, semua anak saya bisa menempuh pendidikan sampai jenjang tinggi. Saya yakin itu bukan semata karena kemampuan saya, tetapi karena keberkahan dari jalan pengabdian ini, ”ungkapnya dengan penuh syukur.
Muhammadiyah dan Keikhlasan Berorganisasi
Dalam kesempatan tersebut, Muflih juga mengingatkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, bukan organisasi yang berorientasi keuntungan materi. Ia mencontohkan banyaknya pengurus Muhammadiyah dari tingkat pusat hingga ranting yang bekerja tanpa menerima gaji.
Salah satu contoh yang ia sebut adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, yang dikenal hidup sederhana meskipun memimpin organisasi besar dengan ribuan amal usaha.
“Kalau orang mengurus Muhammadiyah dengan tujuan mencari uang, siap-siap akan kecewa. Karena di Muhammadiyah orang justru berkorban untuk menghidupkan organisasi,” jelasnya.
Belajar Bersyukur
Di akhir sesi, Muflih mengajak para guru dan karyawan Smamuga untuk memulai langkah menjadi “guru dunia akhirat” dengan satu sikap sederhana namun mendalam, bersyukur. Menurutnya, rasa syukur tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap menerima dan menghargai setiap nikmat yang diberikan Allah. Ia memberi contoh sederhana tentang nikmat kesehatan. “Tidak ada orang yang mau menukar matanya dengan uang miliaran rupiah jika akhirnya tidak bisa melihat. Artinya, kesehatan yang kita miliki hari ini adalah nikmat yang sangat besar,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk selalu melihat nikmat yang telah dimiliki, sekaligus belajar dari saudara-saudara yang mungkin kehilangan sebagian nikmat tersebut. “Jika kita masih diberi kesehatan, tubuh yang lengkap, dan kesempatan mengajar, maka itu adalah karunia besar yang patut kita syukuri,” pesannya.
Menguatkan Spirit Dakwah Guru Muhammadiyah
Kegiatan Baitul Arqom bagi guru dan karyawan Smamuga Tulangan ini bukan sekadar forum kajian, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi para pendidik untuk meneguhkan kembali niat pengabdian mereka.
Melalui materi yang hangat, reflektif, dan penuh pengalaman hidup, para peserta diajak memahami bahwa profesi guru Muhammadiyah bukan hanya pekerjaan, melainkan jalan dakwah menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Semangat itulah yang diharapkan terus tumbuh di lingkungan SMA Muhammadiyah 3 Tulangan—melahirkan para guru yang tidak hanya mendidik dengan ilmu, tetapi juga dengan keteladanan dan keikhlasan. (*)
Penulis : Zulkifli
Leave a Reply