Loading...
Kabupaten Sidoarjo
031 8855423

Berita

Guru Muhammadiyah yang Mengusulkan Soekarno Menjadi Presiden

09 Mar 2026

SMAM3SDA.SCH.ID – Tidak banyak orang mengetahui kisah di balik sosok yang dijuluki “Si Jalak Harupat”. Nama Otto Iskandardinata memang cukup dikenal karena pernah menghiasi uang kertas Rp20.000 dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia. Namun di balik itu, tersimpan cerita besar tentang seorang guru Muhammadiyah yang memiliki peran penting dalam perjalanan lahirnya Republik Indonesia.

Lebih dari sekadar tokoh pergerakan, Otto adalah seorang pendidik, pemikir, dan pejuang kemerdekaan yang percaya bahwa kemajuan bangsa harus dimulai dari ruang kelas.

Lahir dari Tanah Sunda

Otto Iskandardinata lahir di Bojongsoang, Jawa Barat, pada 31 Maret 1897. Ia berasal dari keluarga bangsawan Sunda. Status sosial tersebut memberinya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang pada masa kolonial hanya dapat diakses oleh segelintir pribumi.

Ia kemudian menempuh pendidikan sekolah guru. Pilihan itu menunjukkan panggilan hidupnya: mendidik generasi muda bangsa. Kariernya dimulai sebagai pengajar di sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Banjarnegara.

Sejak awal, Otto memiliki keyakinan kuat bahwa kemerdekaan bangsa tidak mungkin tercapai tanpa pendidikan. Menurutnya, rakyat yang cerdas akan memiliki kesadaran untuk memperjuangkan hak dan masa depannya.

Julukan “Si Jalak Harupat”

Kepribadian Otto dikenal tegas, berani, dan lugas. Ia tidak segan menyampaikan pendapat secara terbuka, bahkan di hadapan pejabat kolonial.

Karakter itulah yang membuatnya mendapat julukan “Si Jalak Harupat”. Dalam budaya Sunda, jalak harupat menggambarkan ayam jantan yang kuat, berani, dan suaranya lantang. Julukan ini kemudian melekat erat dengan sosok Otto hingga akhir hayatnya.

Mengabdi di Muhammadiyah

Menjelang tahun 1928, Otto pindah ke Batavia (sekarang Jakarta). Di kota inilah ia bergabung dengan Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam modern terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah.

Di lingkungan Muhammadiyah, Otto dipercaya memimpin AMS Muhammadiyah di Kramat Raya 49. Sekolah ini menjadi salah satu pusat pendidikan modern yang melahirkan banyak tokoh penting bangsa.

Di sana, Otto membangun atmosfer intelektual yang kuat. Ia bahkan mengajak seorang tokoh muda yang kelak menjadi Perdana Menteri Indonesia, yakni Djuanda Kartawidjaja, untuk ikut mengajar.

Menariknya, gedung sekolah tersebut juga menjadi bagian dari sejarah olahraga Indonesia. Di tempat ini pernah berlangsung pertemuan yang melahirkan organisasi sepak bola VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra) yang kemudian berkembang menjadi klub besar ibu kota, yaitu Persija Jakarta.

Tokoh yang Mengusulkan Soekarno Menjadi Presiden

Peran terbesar Otto Iskandardinata terjadi menjelang lahirnya Republik Indonesia. Ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, sebuah badan yang dibentuk untuk merumuskan dasar dan bentuk negara Indonesia merdeka.

Dalam salah satu sidang penting, Otto tampil berani menyampaikan usulan yang sangat menentukan arah sejarah bangsa. Ia menjadi tokoh pertama yang secara terbuka mengusulkan nama Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia.

Usulan tersebut mendapat dukungan luas dari anggota sidang dan akhirnya diterima secara aklamasi.

Keputusan itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia ketika Soekarno memimpin bangsa ini pada awal kemerdekaan.

Menteri Negara di Awal Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Otto dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara dalam pemerintahan Republik Indonesia.

Salah satu tugas penting yang diembannya adalah membantu pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), organisasi pertahanan rakyat yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Perannya menunjukkan bahwa Otto tidak hanya berjuang melalui pendidikan dan gagasan, tetapi juga ikut membangun fondasi pertahanan negara yang baru lahir.

Akhir Hidup yang Tragis

Namun perjalanan hidup sang “Si Jalak Harupat” berakhir tragis.

Pada 19 Desember 1945, Otto Iskandardinata diculik oleh kelompok bersenjata yang dikenal sebagai Laskar Hitam. Ia dibawa ke wilayah pesisir Mauk, Banten.

Di tempat itu, Otto disiksa dan dibunuh. Jenazahnya kemudian dibuang ke laut dan hingga kini tidak pernah ditemukan.

Meski jasadnya hilang, semangat perjuangannya tidak pernah lenyap dari ingatan bangsa.

Warisan Seorang Guru Pejuang

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menetapkan Otto Iskandardinata sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1973.

Kisah hidupnya memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda, khususnya para pelajar. Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari medan perang, tetapi juga dari ruang kelas, gagasan, dan keberanian menyampaikan kebenaran.

Seorang guru Muhammadiyah bernama Otto Iskandardinata telah membuktikan bahwa pendidikan dapat melahirkan perubahan besar bagi bangsa.

Kokok “Si Jalak Harupat” mungkin telah lama berhenti, tetapi gaung perjuangannya masih terus terdengar dalam perjalanan Indonesia hingga hari ini. (*)

 

Penulis : Zulkifli

Sumber : MUHAMMADIYAH.ID (Si Jalak Harupat, Otto Iskandardinata : Guru Muhammadiyah Pejuang Pemberani)

 


Leave a Reply